oke, sekarang sudah bulan Juli (uda tau, kan blog ada tanggalnya..) dan sudah masuk bulan puasaaaaa...(g tau kan?). kemarin (kemarinnya orang Jawa, jadi sudah sekitar 1 minggu yang lalu) saya dan teman2 tak berpenghasilan (aka dosen luar biasa) lain dipanggil oleh BuDe, disuru ngadep ke fakultas. oh oh oh...ada apa gerangan? kata Mama, "Oh, mungkin kalian mau dikasi tunjangan hari raya..." yang segera saya bantah, "tunjangan sehari-hari aja g ada, palagi hari raya!!!" Mama pun diam tapi mungkin dalam hatinya agak dendam karena pas buka puasa, semua menu cuma masakan kemarin yang dipanaskan. OH....
sampe kampus, setelah disuru nunggu sebentar yang ternyata meluas menjadi satu setengah jam, kami pun berdiskusi di ruang rapat. ngomong2, di rapat hadir juga PaDe 1 yang merupakan papa dari teman tercinta saya, Melit (ah, dunia bagai daun keloooorrrr...syalalalalalaaa) dan kami pun ngobrol2 dengan g akrabnya. saya tau pasti para pembaca sangat tidak sudi untuk mengetahui jalannya rapat itu jadi ya intinya tu kami mo disuruh. iyah, disuruh... Hampir saja terlontar kalimat, "Ada duitnya ga?" dari mulut saya tapi untunglah semua itu dapat saya tahan. terima kasih pada Tuhan yang Maha Esa karena atas ijin-Nya, kita semua dapat meneruskan rapat itu tanpa saya ditendang keluar.
jadi cerita BuDe, ada peneliti dari Jepang yang akan datang untuk meneliti jenis ikan (yang katanya, saya juga ga tau kalo ikan itu) endemik di Gorontalo. beliau bakal datang 26 September dan kamu diharapkan dapat menemani hari-hari beliau berburu spesimen untuk diteliti. saya jadi berpikir, kenapa si Jepang g jalan aja sendiri, toh dia uda besar, bisa ngomong dan bertanya pada orang2 sekitar, dan bisa berbahasa Inggris. ada apa? kenapa dia harus kami temani? kenapa kenapa kenapa... bergema dalam relung jiwa... yang tentu saja tidak saya lontarkan atas ijin Tuhan. yah, tentu saja dia bisa jalan sendiri tapi alangkah lebih baik kalo kita temani, biar cepat sampai tujuan. beberapa hari kemudian, saya membaca surat dari si Jepang yang diterima oleh fakultas. ternyata beliau mau meneliti jenis ikan tertentu sebagai inti dari penelitiannya sedangkan ikan endemik tadi, itu jadi no. 2 dari 3 hal yang dituliskan ingin ia teliti. saya pun manggut2 di depan Sayaka-san yang menjelaskan keinginan si Jepang. eh, tunggu, Sayaka-san kan juga orang Jepang ya... jadi Sayaka-san nanti kata penggantinya adalah si nona Jepang. yak, lebih baik begitu...
ngomong2 tentang nona Jepang 2, sepertinya ada yang ember kalo saya bisa bahasa Jepang, jadi dia membombardir saya dengan kalimat2 yang sumpah, saya udah lupa dan sebagian saya g tahu artinya. setelah menjawab pendek2, nona pun paham kalo saya bego dan syukur pada Tuhan dia mulai ngomong bahasa Inggris. Sayaka-san, cut me some slack will you.. uda 50 tahun yang lalu saya belajar bahasa itu jadi, tolong yah...... (tunggu, tunggu..jadi umur saya sekarang berapa sih?)
demikianlah, semua personil eager untuk menyiapkan segala sesuatu buat si Jepang padahal saya pengen bilang, "puasa... puasaaa..." sungguh puasa itu bikin orang menjadi lemas dan tak berdaya. hampir semua tenaga dicurahkan untuk beribadah (baca: taraweh yang lama dan ngaji ber'ain2 buat ngejar nuzulul qur'an) jadi kalo saya mo disuru untuk menyiapkan segala sesuatu, saya... saya... apa ya... (Males??) oh jangan bilang males, saya tidak malas, saya hanya menyimpan energi. saya hanya kurang antusias. rekan2 lain tampaknya lebih antusias jadi saya serahkan semua pada kalian ya?
ngomong2, ada hal yang menjengkelkan saat bersua dengan Sayaka-san. di ruang itu ada 3 orang lain dari antah berantah yang g pernah hadir di rapat tapi tiba2 aja nongol di ruangan itu dan dua di antaranya petatang peteteng kayak yang punya kantor. kebetulan waktu tu saya datang bareng pak Z (bapak apanya!! cuma setahun di atas saya juga). kami ditanya2 penelitian pas tesis tu tentang apa. pas kami sebut, dua orang tu ngomong, "loh, trus apa hubungannya donk, sama penelitiannya sensei (si Jepang). virus (saya) tu kan jauh banget ma ikan. ntar kalo (saya) ditanya pas korespondensi malah g bisa jawab"
saya mangkel dalam hati, "yah, kalo sensei mo neliti DNA, saya bisa kok. saya kerja di lab uda lama (rasanya hidup saya selama s2 habis di lab itu)." kalo tentang ikan ya memang saya g tahu. tapi analisis DNA kan relatif sama untuk semua...
"oh, oh, kami ni terus terang bukan dari Biologi, jadi kami g paham tentang yang gitu2. apa ga ada yang lain yang lebih paham soal ikan endemik?"
ibu yang satu yang kayaknya uda diinformasikan papa Melisa mengiyakan, "dia bisa kok. nanti kalo sensei nanya, bisalah mereka nanya orang lain yang lebih tau trus diinformasikan ke sensei. atau orang lain tu diajak juga, ikut field tripnya."
ya ya ya... kalo emang g paham, mulut juga jangan dibuka seenaknya kali yaaa... masa uda ga paham, underestimate pulakk. untung kalian lebih tua yaaaaa... kalo ga... (yah ga gimana2, emang saya berani apa, ngomong sembarangan ke orang yang baru saya temui pertama kali. OH, baik hati (baca: penakut) banget saya ni...)
tapi yah, ini kan kesan pertama (yang akan membekas di hati selamanya) jadi mungkin pertemuan lebih lanjut bakal ada perkembangan ke arah yang lebih baik (kayak.... slogan partai??). Jadi bersiaaaappp.. anggaplah orang yang underestimate pada orang lain g ada di dunia ini kecuali pas mereka nawarin makanan, siapkan saja diri (diri aja ya? ga laen2?), dengan meminjam seruan Markonah, temen s2 saya, saat kunjungan mahasiswa Shizuoka Univ ke Perta UGM, "Jepang Dataaanggg..."
setelah saya baca2, blog kalo ini jueleeeekkkk bangettt... buat yang mbaca smpe kalimat akhir, saya ucapkan selamat yah, Anda sudah menjadi orang yang sabar menghadapi cobaan...
tambahan, sensei mengirimkan jurnal ikan yang dia teliti, tertarik? ini link-nya, open access lo...